Jumat, 28 Juni 2013

KKT 101 PERANAN PENDIDIKAN DALAM PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA



I.                   PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
            Dewasa ini telah terjadi pergeseran moral dan nilai yang signifikan dalam realita kehidupan, baik secara pribadi, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa. Hal ini terjadi disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya: Nilai budaya bangsa yang mulai pudar, nilai pendidikan yang dianggap kurang penting, nilai-nilai kehidupan telah bergeser dari tatanannya melemahnya kemandirian bangsa, dan manajemen keterbatasan perangkat, sampai saat ini belum ada manajemen yang positif dan efektif dalam menanggulangi persoalan bangsa yang sangat komplek.
1.1.            Keadaan Sosial Desa
Jumlah penduduk Desa SweetDream sampai dengan akhir tahun 2012 sebesar 200  jiwa. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk sebesar 10 persen. Hal ini menunjukan bahwa laju pertumbuhan penduduk di Desa Sweet Dream tidak dapat dikendalikan.
Kesejahteraan sosial masyarakat dapat diidentifikasikan dengan jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).  Sampai dengan akhir tahun 2012 jumlah PMKS di Desa SweetDream  diantaranya meliputi Keluarga fakir miskin sebanyak 40 KK, anak balita terlantar sebanyak 10 orang, anak terlantar sebanyak  8  orang, lanjut usia terlantar sebanyak 11 orang, penyandang cacat sebanyak 7 orang, pengemis sebanyak 1 orang, bekas warga binaan pemasyarakatan sebanyak  5 orang,  keluarga berumah kurang layak huni sebanyak 20 KK.
1.2.            Ekonomi
Desa Sweet Dream merupakan desa yang kaya akan potensi sumber daya alam. Potensi tersebut tersebar di wilayah Desa SweetDream yang lahannya mayoritas adalah lahan pertanian, sehingga mayoritas penghasilan masyarakat bersal dari kegiatan pertanian. Hasil Pertanian (pangan dan buah-buahan dijual) langsung ke konsumen oleh para petaninya, atau dijual melalui  pengecer.
1.3.            Isu-isu yang ada di Desa SweetDream
Berkaitan dengan masalah pendidikan secara faktual belum menjadi perhatian semua warga.  Berdsarkan fakta yang ada banyak terdapat masyarakat yang hanya sampai pada tingkat pendidikan SD dan SMP hal ini disebabkan karena tidak tersedianya sarana dibidang pendidikan sekolah lanjutan atas serta kondisi ekonomi yang minim yang menyebabkan masyrakat tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan SLTA dan sampai ke Perguruan tinggi.
PROFIL DESA
Ø Luas Desa : 1000 Ha
            Peruntukan Lahan Desa Luas :  Tanah Sawah 350 Ha,  Tanah Pekarangan 15 Ha,  Tanah Tegalan 200 Ha, Lain-lain 435 Ha Luas keseluruhan 1000 Ha.
Ø Jumlah Penduduk : 282 Jiwa
Laki-laki : 102
Perempuan : 180
Ø Batas Desa :
Utara berbatasan dengan           :  Desa Virgo
Selatan berbatasan dengan        : Desa Gemini
Timur berbatasan dengan          : Desa Rainbow
Barat berbatasan dengan           : Desa Sky
Ø Pendidikan
SD         : 14 Orang
SMP       : 63 Orang  
SMA      : 25 Orang
PT          : 7 Orang  
PS          : 20 Orang
BS          : 53 Orang
Ø Pekerjaan
PNS : 15 Orang , SWASTA : 10 Orang, Buruh :15 Orang , Tani :90 Orang
Ø Sarana/Prasarana
Puskesmas         : -
Balai Desa         : 1
Kantor Desa      : 1
SD                     : 1
SMP                   : 1 dan SMA : -
Ø Teknologi Desa
Tractor
Mesin Penggiling padi
IDENTIFIKASI MASALAH
1.      Kurangnya perhatian masyarakat pada sektor pendidikan
2.      Tingginya presentasi pernikahan diusia dini
3.      Mobilitas penduduk dari desa ke kota.
ANALISA MASALAH
Analisa masalah berdasarkan Wawancara/ Diskusi dan observasi dengan masyarakat desa Sweet Dream
PRIORITAS MASALAH
1.      Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan
2.      Kurangnya fasilitas yang menunjang / memadai sarana pada sektor pendidikan.
PENDEKATAN/SOLUSI
            Sosialisasi atau penyuluhan tentang pentingnya pendidikan,
membangun sarana-sarana yang dapa membantu meningkatkan pendidikan.  Para orang tua lebih meningkatkan perhatian dan pengawasan kepada anak – anak mereka, agar supaya tidak terjadi pergaulan bebas yang menyebabkan pernikahan  dini yang akhirnya putussekolah / tidak dapat melanjutkan pendidikan.
PROGRAM KERJA
FISIK :
1.      Pembangunan taman belajar.
NON FISIK :
1.      Penyuluhan Pendidikan
2.      Sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan
PEMBIAYAAN
1.      Pembangunan taman belajar : Rp 10.000.000
2.      Biaya untuk kegiatan non fisik : Rp 2.500.000
VOLUME
1.      Pembangunan taman belajar: 3 x 3 x 3 m
CARA PENCARIAN DANA
1.      Dana awal peserta
2.      Proposal dan donatur
3.      Sponsor


























II.                PEMBAHASAN
2.1.               Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan alat utama yang berfungsi untuk membentuk dan membangun karakter bangsa.  Pendidikan, di samping untuk mengembangkan daya nalar kritis-kognitif, juga merupakan upaya berkelanjutan untuk membangun dan membentuk karakter.  Penanaman nilai-nilai akhlak, moral dan budi pekerti sebagaimana tertuang dalam undang-undang pendidikan nasional Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 harus menjadi dasar utama dalam pola pelaksanaan dan evaluasi sistem pendidikan nasional.
"Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berilmu, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab." (pasal 3 UU. Sisdiknas thn. 2003).
Tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertera pada undang-undang, secara jelas telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam menopang karakter dan jati diri bangsa. Tetapi dalam penyelenggaraannya telah mengalami degradasi, yaitu terkikisnya nilai-nilai kearifan lokal oleh kuatnya arus pendidikan global, kecerdasan kognitif menjadi ukuran yang lebih dominan untuk menentukan keberhasilan dalam menempuh pendidikan.  Akibatnya, tata krama, etika dan moral generasi bangsa tereduksi dalam sebuah nilai-nilai sempit cognitive oriented.
Pendidikan tidak hanya ditempuh secara formal, namun juga nonformal dan informal. Ketiga jalur pendidikan ini memiliki peran penting dalam pembentukan karakter bangsa. Karena pendidikan adalah proses yang sistemik, tidak mungkin keberhasilan pendidikan diraih maksimal, tanpa kerjasama dan keterlibatan semua pihak.
Pendidikan formal
Sekolah berperan penting dalam menanamkan dan membekali nilai-nilai bagi seorang anak. Di sekolah para anak berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman dan guru-gurunya.  Sekolah, merupakan laboratorium sosial bagi anak.  Bahkan anak-anak lebih menyerap nilai-nilai dari teman sebayanya, dari orangtuanya, ketika orangtua tidak dapat mendekati anak-anaknya dengan pendekatan yang tepat.
Sekolah harus berperan sebagai pembangun karakter (character builder), dan tidak hanya sekedar menyebar pengetahuan (transfer of knowledge).  Sekolah bukanlah semata-mata persiapan anak di masa depan, tetapi sekolah harus dijadikan kehidupan itu sendiri, jadi pada saat di sekolahlah  penanaman nilai-nilai harus secara efektif dijalankan melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas maupun diluar kelas sehingga proses pendidikan dan pembudayaan berjalan dengan beriringan.
Metode pembelajaran yang digunakan umumnya disebut sebagai pendidikan moral, yang terintegrasi ke dalam dua mata pelajaran, yakni Pendidikan  kewarganegaraan (PKn) dan pendidikan agama. Namun, dalam praktiknya terasa masih tampak kurang pada keterpaduan model dan strategi pembelajarannya. Siswa lebih diorientasikan pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks, dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalah-masalah moral yang terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu upaya untuk memperbaiki pola pembelajaran terutama dari konvensional ke pembelajaran kontekstual.
Pendidikan nonformal
Pendidikan dapat pula ditumbuhkembangkan di luar pendidikan formal, yang memfungsikan peran-peran sosial dari masyarakat, dan agamawan. Hal itu sejalan dengan model pembelajaran tempo dulu di masa-masa awal digalakkannya pendidikan di Tanah Air.
Pendidikan di masa lampau umumnya belum memerlukan pendidikan dalam arti formalisme pendidikan yang mendorong tumbuhnya kompetisi kecerdasan satu sama lain, tetapi yang menjadi pusat dan syarat pendidikan ialah berupa kesejahteraan rumah tangga, atau dengan kata lain, pendidikan berpusat pada kesejahteraan dan keutuhan hidup bersama antara ibu dan bapak. Telah menjadi adat kebiasaan yang turun-temurun bahwa di pundak ibu dan bapaklah tanggung jawab atas segala hal ihwal kehidupan anaknya. Dengan kebiasaan itu, para ibu dan bapak merasa harus bertindak sebagai contoh (kaca benggala) untuk anak cucu dan keturunan mereka selanjutnya.
Pendidikan informal
Keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama.  Dalam lingkungan keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan bekal berupa nilai-nilai tentang baik dan buruk dalam kehidupan.  Orangtua sangat berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai dasar bagi bangunan budi pekerti, etika dan moralitas anak kelak dalam kehidupannya.  Keluarga merupakan salah satu pilar penting bangsa dalam membangun warga negara yang berkualitas dan berintegritas.
Seorang anak yang cukup mendapatkan kasih sayang dan bekal nilai yang cukup di rumah maka akan tenang, nyaman dan mantap secara nilai di luar rumah.  Tetapi ketika di rumah tidak mendapatkan apa yang dibutuhkannya, di luar rumah akan menyerap apapun yang didapatkannya , yang menjadi permasalahan adalah, ketika nilai-nilai yang ada di luar sangat merusak jiwanya bahkan kehidupannya.
Perhatian yang cukup dan kasih sayang yang intens serta suasana yang dialogis antara anak dan orangtua adalah salah satu upaya yang efektif, untuk menjadikan para anak lebih percaya pada orangtua dan keluarganya.  Perlu dibangun rasa saling percaya antara seluruh anggota keluarga sehingga merasa nyaman dan dihargai.
Pendidikan baik formal, nonformal maupun informal, tetap masih dibutuhkan, yang justru kita berharap terjadi simbiosis mutualistis, saling dukung di antara ketiganya. Dengan menegakkan pendidikan yang berkarakter, kita optimistis kualitas pendidikan nasional kita kian lebih baik, yang salah satunya ditandai dengan berkurangnya angka kriminalitas, kasus korupsi, dan perbuatan asusila.
2.2.            Konsep Karakter dan Pekerti Bangsa
            Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, karakter  mempunyai pengertian   sifat-sifat kejiwaan; tabiat; watak; perangai; akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.  Berkarakter artinya berkepribadian; bertabiat atau berwatak.  Demikian pula dengan konsep pekerti mempunyai pengertian yang sama dengan karakter, yaitu tabiat; watak; atau sifat-sifat kejiwaan. 
            Konsep pekerti biasanya dihubungkan dengan budi pekerti, yang berarti pekerti atau watak yang selalu menyenangkan orang lain.  Mengacu pada pengertian dalam bahasa Inggris, budi pekerti diterjemahkan sebagai moralitas, yang mempunyai beberapa pengertian antara lain adat istiadat, sopan santun, dan perilaku. 
Edi Sedyawati (1999) mengatakan bahwa sesungguhnya pengertian budi pekerti yang paling hakiki adalah perilaku.  Sebagai perilaku, budi pekerti meliputi pula sikap yang dicerminkan oleh perilaku atau karakter.  Karakter dapat bersifat individual dan juga dapat bersifat kolektif, karena itu  yang mempunyai karakter adalah manusia, suku bangsa atau bangsa. Dengan demikian yang dimaksud dengan karakter atau pekerti bangsa adalah watak, tabiat atau perangai yang dimiliki oleh sebuah bangsa.  Karakter atau pekerti bangsa tersebut tercermin dalam perilaku, ekspresi diri dan juga identitas diri pada seluruh warga bangsa.  Keberhasilan sebagai bangsa yang berkarakter adalah memberikan citra diri yang positif dalam pembentukan sumber daya manusia seutuhnya serta identitas bangsa yang intelek sehingga mampu menyejajarkan diri dengan negara-negara lain.
Pembentukkan karakter sangat diperlukan karena Dengan adanya pembentukan karakter sejak dini diharapkan akan lahir generasi-genarasi yang memiliki kepribadian yang matang, hubungan yang harmonis dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat, menjadi manusia yang bermanfat untuk orang lain.
2.3.            Membangun Karakter dan Pekerti Bangsa Melalui Pendidikan
            Pembangunan karakter bangsa menjadi hal yang mendesak untuk kita segerakan.  Melalui pendidikan,  khususnya pendidikan kewarganegaraan atau ciciv education, pembangunan karakter bangsa itu dapat dimulai.  Sasarannya adalah pembangunan watak individu manusia Indonesia.  Untuk hal ini, penguatan spiritualitas dan akhlaq menjadi salah satu prioritas penting karena  civic education bukan sekadar proses untuk membuat seseorang itu mengetahui apa hak-haknya sebagai warga negara, akan tetapi lebih dari itu dimaksudkan juga untuk mendidik setiap individu agar dapat bersikap secara proporsional karena dilandari oleh watak mandiri. 
Keberhasilan sebagai individu akan membentuk citra diri yang berkarakter, sumber daya manusia yang berkualitas, serta mempunyai wawasan yang luas dalam berbagai bidang ilmu dan teknologi.  Keberhasilan sebagai bangsa adalah memberikan citra diri yang positif dalam pembentukan sumber daya manusia seutuhnya serta identitas bangsa yang intelek sehingga mampu menyejajarkan diri  dengan negara-negara lain. Akan tetapi secara umum keberhasilan dalam dunia pendidikan kita masih jauh tertinggal.  Sebetulnya yang menjadi akar permasalahan antara lain,
pertama, tenaga pendidik masih belum memadai. Memang dalam pendidikan kita, banyak pendidik yang tingkat pendidikannya maupun tingkat intelektualnya di atas rata-rata, akan tetapi ketika para pendidik masih memikirkan masalah ekonomi dia tidak akan berkonsentrasi penuh dalam mendidik (pendidikan).  Sehingga dalam dirinya akan terdapat dualisme pemikiran, inilah yang menjadi faktor penyebab pendidik kita belum memadai dalam memberikan pendidikan.
Kedua, dunia pendidikan kita terlalu teoretis dan birokratis sehingga lebih banyak teori daripada praktik, ketika lulusan kita dihadapkan pada kenyataan real di lapangan belum terampil dalam mempraktikkan bidang keilmuannya, inilah yang menyebabkan dunia pendidikan kita belum mampu bersaing di dunia internasional.
Ketiga, kualitas sistem pendidikan jalan di tempat. Sering terjadi perubahan-perubahan vital atau mendasar dalam sistem pendidikan kita, seperti perubahan kurikulum pendidikan, sehingga kita kehilangan arah dalam mencapai tujuan pendidikan. Semestinya pendidikan kita dengan kurikulum yang ”deduktif” mampu mencetak sumber daya manusia yang tinggi, intelek dan cepat menyerap berbagai teknologi (science). Sehingga kita mampu bersaing dalam pergaulan dunia internasional.
III.             KESIMPULAN
            Pendidikan merupakan alat utama yang berfungsi untuk membentuk dan membangun karakter bangsa.       Pendidikan dapat ditempuh secara formal, nonformal dan informal.
Dengan menegakkan pendidikan yang berkarakter, kualitas  pendidikan nasional akan lebih baik sehingga angka kriminalitas,  kasus korupsi, dan perbuatan asusila akan berkurang.
























LAMPIRAN 1. DAFTAR NAMA KELOMPOK 9 ( Kelas C13-C17 )

NO

NAMA
NIM
FAKULTAS









































































































 

NO
NAMA
NIM

FAKULTAS










































































































 

NO
NAMA
NIM

FAKULTAS










































































































 

NO
NAMA
NIM

FAKULTAS